Jumat, Januari 09, 2009

ABU NAWAS ( Merayu Tuhan )

Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit. Di antara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya. "Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" "Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil." jawab Abu Nawas. "Mengapa?" kata orang pertama. "Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan." kata Abu Nawas. Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu. Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" "Orang yang tidak mengerjakan keduanya." jawab Abu Nawas. "Mengapa?" kata orang kedua. "Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan." kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas. Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" "Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar." jawab Abu Nawas. "Mengapa?" kata orang ketiga. "Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu." jawab Abu Nawas. Orang ketiga menerima alasan Abu Nawas. Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas. Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya. "Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?" "Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati." "Apakah tingkatan mata itu?" tanya murid Abu Nawas. "Anak kecil yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata." jawab Abun Nawas mengandaikan. "Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abun Nawas. "Orang pandai yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan." jawab Abu Nawas. "Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas. "Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan keMaha-Besaran Allah." Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. Ia bertanya lagi. "Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?" "Mungkin." jawab Abu Nawas. "Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu. "Dengan merayuNya melalui pujian dan doa." kata Abu Nawas. "Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru." pinta murid Abu Nawas. "Doa itu adalah : Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa'alan naril jahimi, fahabi taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil 'adhimi." Sedangkan arti doa itu adalah: Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar. (Sumber : Kumpulan kisah Abu Nawas) Bocah Fals

ABU NAWAS (Kecerdikan dan ketulusan hati pasti bisa mengalahkan kelicikan)

Pada suatu hari yang cerah, Raja Harun Alrasyid dan pengikutnya meninggalkan istana untuk berburu. Namun di tengah perjalanan, Abujahil menyusul dengan terengah-engah di atas kudanya. “Baginda, Baginda! Hamba mau mengusulkan sesuatu,” katanya setelah mendekat sang raja. “Apa usulmu itu, Abujahil?” tanya Baginda Raja keheranan. “Agar acara berburu ini menarik dan disaksikan banyak penduduk, bagaimana kalau kita sayembarakan saja?” ujar Abujahil dengan mimik serius. Baginda terdiam sejenak dan mengangguk-angguk. “Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abunawas, bagaimana Baginda? Pemenangnya mendapat sepundi uang emas. Tapi kalau kalah, hukumannya memandikan kuda-kuda istana, selama satu bulan,” tutur Abujahil meyakinkan sang raja. “Hei, hadiah saja yang kau pikirkan. Lantas bagaimana caranya adu ketangkasan ini?” sela Baginda agak marah. Setelah memberi tahu idenya, Baginda setuju, maka dipanggillah Abunawas oleh salah satu punggawa. Abunawas menghadap. Ia pun diberi petunjuk panjang lebar oleh Baginda. Pada awalnya Abunawas menolak karena ia tahu semua ini akal bulus Abujahil yang ingin menyingkirkan dirinya dari istana. Tapi Baginda memaksa dan Abunawas tidak bisa mengelak. Abunawas pun berpikir sejenak. Ia tahu kalau Abujahil sekarang diangkat menjadi pejabat istana. Ia pasti mengerahkan semua anak buahnya untuk menyumbang seekor binatang buruannya di hutan nanti. Namun karena kecerdikannya, Abunawas malah tersenyum riang. Abujahil yang melihat perubahan raut muka Abunawas menjadi penasaran. Batinnya berkata, tak mungkin Abunawas mengalahkan dirinya kali ini. Akhirnya Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan segenap rakyat menunggu, siapa yang bakal memenangkan lomba berburu ini. Terompet tanda mulai adu ketangkasan pun ditiup oleh Perdana Menteri. Abujahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara, di pinggir istana. Anehnya, Abunawas memacu kudanya sedang-sedang saja, sehingga diteriaki para penonton. Menjelang sore, tampak kuda Abujahil memasuki pintu gerbang istana. Ia pun diteriaki para penonton dan mendapat tepuk tangan meriah sekali. Di sisi kiri-kanan kudanya tampak puluhan hewan yang mati terpanah. Tak hanya itu, kuda tambahan juga memanggul binatang buruan lainnya. Abujahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya di tengah lapangan. “Aku, Abujahil, berhak memenangkan lomba ini. Lihat binatang buruanku banyak, mana mungkin Abunawas mengalahkanku!?” teriaknya lantang. Penonton di sekitar arena semakin ramai bertepuk tangan. Tidak berapa lama, terdengar suara kaki kuda Abunawas. Semua orang menertawakan dan kembali meneriakinya. Tapi, Abunawas tidak tampak gusar. Ia malah tersenyum dan melambaikan tangan. “Tenang, tenang, rakyatku! Kita akan mengetahui apa yang akan dilakukan Abunawas. Dan kita juga akan tahu, siapa pemenangnya kali ini,” kata raja yang ikut gusar melihat polah Abunawas. Baginda menyuruh dua orang punggawanya maju ke tengah lapangan dan menghitung binatang buruan Abujahil. “Satu, dua, tiga, empat, lima…dua puluh, tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa, dan dua babi hutan!” teriak salah satu punggawa. “Kalau begitu akulah pemenangnya, sebab Abunawas tidak membawa seekor binatang pun. Hahahaha,” teriak Abujahil lantang. “Tenang, tenang. Aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan kau Abujahil, silakan memandikan kuda-kuda istana. Menurut aturan lomba, semua binatang boleh ditangkap, yang penting jumlahnya,” kata Abunawas sambil membuka bambu kuning yang telah diisi ribuan semut merah. “Sekarang coba hitung ini, satu, dua, tiga, empat, seratus, duaratus, selebihnya tidak usah dihitung,” ungkap Abunawas. Tanpa banyak berkata, Abujahil tak sadarkan diri alias semaput gara-gara melihat semut merah Abunawas. Baginda tertawa terpingkal-pingkal dan langsung memberi hadiah pada Abunawas. Kecerdikan dan ketulusan hati pasti bisa mengalahkan kelicikan! (*) Ditulis dalam Abu Nawas. Tag: Abu Nawas.