Kamis, Februari 14, 2008
KALA CINTA DATANG MENGGODA
KALA CINTA DATANG MENGGODA
Pra Nikah
"Jatuh cinta berjuta rasanya ...", begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas
Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta
pun terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi
yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini.
Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan dan ditebak, karena penuh dengan
gejolak. Semua saran dan nasihat ditolak, bahkan nalar pun bisa terdepak oleh perasaan
mabuk kepayang yang membikin rasa melayang-layang. Itulah dahsyatnya perasaan yang satu
ini…………
Apakah karena itu kita tak boleh mencintai dan dicintai? Uups...tentu saja boleh, karena cinta
adalah pemberian Allah SWT. Mencintai dan dicintai adalah karunia, sekaligus panggilan hidup
kita. Tak pernah merasakan jatuh cinta, bukanlah manusia, karena manusia pasti merasakan
cinta [QS Al Imran:14]
Bahkan, cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk kelestarian ummat manusia.
Islam juga gak phobi sama yang namanya cinta kok, bahkan Islam mengakui fenomena cinta
yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun, bukan dalam komoditas rendah dan murah lho.
Artinya, tingkatan mencintai sesuatu itu ada batasnya. Jika cinta itu malah membawanya
kepada perbuatan yang melanggar syariat, nah...kore wa dame da!*
Hmm...cinta itu katanya jelmaan perasaan jiwa dan gejolak hati seseorang, wuis...puitis banget!
Nah, dalam Islam kalau kita merujuk QS: At Taubah 24, maka cinta dapat dibagi dalam 3
tingkatan, yaitu:
1. Cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya
2. Cinta kepada orangtua, istri, kerabat dan seterusnya
3. Cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak istri
melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.
Lalu gimana dong, kalau cinta itu datang, menghampiri dan menggoda di luar pernikahan? Nah
lho, puyeng deh kalo gini! Padahal cinta itu kan timbul memang dari sononya, muncul dari segi
zat atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Normal aja kan, jika memandang
sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah, masa' sih dibilang jelek!
Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, "Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang
indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang.
Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal
dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang
sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela."
Waduh...gimana dong, lagi jatuh cinta nih! Problem...problem... mana masih kuliah, kerjaan
belon ada, masih numpang ama orangtua, wah...nih cinta kok gak pengertian ya!
Kalem dong, jangan blingsatan begitu. Emangnya jatuh cinta masalah kamu aja, ya...gak lagi!
Nabi Yusuf a.s. aja pernah jatuh cinta lho, bahkan kepada seseorang wanita yang telah
menjadi istri seseorang. Eits...protes deh! Iya deh, kalau bukan cinta, paling gak, tertarik dan
terpesona, boleh kan?
Buka deh surat Yusuf, romantika kisah beliau diceritakan dengan tuntas, awal, proses, konflik
hingga klimaks dan ending-nya. Nah lho...Nabi aja bias punya 'konflik' seperti itu, apalagi kamu,
iya kan?
Romantika cinta beliau bukan kacangan, atau pepesan kosong, namun apa yang dialami beliau
bisa menjadi pelajaran buat kita bagaimana kalau cinta itu demen banget menggoda kita.
Beliau sadar, dan mengerti betul bahwa itu terlarang, meski ada gejolak di hatinya [QS Yusuf:
24]
Namun...
Kondisi di atas itu gak terjadi begitu aja lho, karena sebelumnya Nabi Yusuf a.s. pun telah
berusaha untuk menolaknya saat wanita itu terus merayunya. Eh...nabi Yusuf pun dikejarnya,
dan yang dikejar malah lari terbirit-birit, wuus...
Lantas apa dong pelajaran yang bisa kita ambil, saat cinta itu menggoda kita? Pelajarannya
adalah:
1. Setiap orang memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, perasaan ini manusiawi, fitrah
sekaligus anugerah.
2. Namun, gejolak itu harus diatur lho, kalau gak maka kita akan terperosok ke jurang
kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwanya. Lantas jadi merana deh, angan-angan
melulu. Innan nafsa la ammaaratun bis-suu, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak
kepada kejahatan kecuali nafsu-nafsu yang diberi rahmat oleh Allah [QS Yusuf:53].
3. Kalau kita jatuh cinta pada lawan jenis, dan mengharapkan terbalaskan cintanya, maka
saat itu ada sebagian dari akal dan logika yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal
sehat yang dipunyai jadi ngadat, gak jalan! Gak percaya? Coba deh, ntar kalau kamu
tambah dewasa, udah nikah, mungkin mikir, "Kok, dulu begitu ya?", "Kok, dulu gak mikir
ya?", dan "kok-kok" yang lain.
4. Dulu waktu ngejar-ngejar, wah...dimana-mana hanya terpampang wajah dia seorang,
kekasih hati. Tidur gak nyenyak, makan pun terasa gak enak, bukan karena banyak
nyamuk atau lauknya gak enak, dunia ini pun hanya untuk berdua, yang lain ngontrak,
ck...ck...ck... Kalau gak ketemu, rasanya gimana gichuu. Dikejar setengah mati deh, pokoke
mesti dapet! Tapi begitu udah dapat, lalu masuk dunia rumah tangga, gejolak itu bisa
berganti dengan rutinitas dan bias bosan. Itulah sifat manusia, karena itu bila mencintai
seseorang, cintailah sewajarnya, siapa tahu ntar kamu benci padanya. Begitu juga
sebaliknya, kalau benci, bencinya yang wajar aja deh, siapa tahu ntar malah aishite iru*
5. Ingat lho, gak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi, kalau gak mau dibilang egois.
Tidak semua cita-cita itu harus terkabul, dan tidak pula semua gejolak harus dituruti. Di
dunia ini ada banyak pilihan, kalau gak dapat yang satu, pilihan lain masih banyak kan?
Siapa tahu malah lebih baik. Makanya buka mata lebar-lebar, masa' sih cuma ada dia aja di
dunia ini, emang yang lain kemana bo!
6. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik, dan tidak semua yang dianggap indah itu
indah. Segala sesuatu itu pasti ada cacat dan cela-nya. Saat jatuh cinta sih, wuah...indah
buanget, tiada cacat dan cela. Padahal bisa aja kan, cacat dan cela itu jauh lebih banyak
dari baik dan indahnya.
7. Akhirnya, kalau kamu udah sampai pada puncak cinta, yaitu pernikahan, ingat deh kalo
puncak masalah pernikahan itu bukanlah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi
gimana agar kita bisa survive di dalamnya, siapapun pasangan kita.
Semoga membantu akhi wa ukhti, jangan lupakan Allah SWT kalau antum jatuh cinta ya. Jatuh
cinta-lah karena Allah SWT, karena kasih sayangnya akan meluruh ke jiwa.
Wallahu a`lam bis-shawab. ***
"Siti Nurhamiah"
Langganan:
Postingan (Atom)
