Jumat, Februari 15, 2008

Dinasti Cendana Hambur Uang

Buang Duit Gaya Dinasti Cendana nambahin nich..kali aja ada yg belom baca....Tempo Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999Laporan Khusus- Buang Duit Gaya Dinasti CendanaTrah Soeharto adalah kisah tentang rumah berjuta poundsterling diInggris, reli mobil di Australia, perburuan di Selandia Baru,perjudian di Christmas Island, dan segunung tas belanja yang taksempat dibuka.BEL itu berdentang nyaring. Sekian menit ditunggu, tak ada yangmembukakan pintu rumah mewah di Winnington Road No. 8, Hampstead,London, itu. Padahal dua mobil mengkilat?VW Caravelle biru langit danHonda Legend merah?terparkir di halaman depannya yang tak berpagar.Rumah bergaya Victorian itu jelas masih berpenghuni. Pekarangannya,yang berbatu paving, tertata rapi. Bunga berwarna kuning, biru, danputih menghiasi tamannya yang asri lagi luas. Dindingnya, yang takbersemen, didominasi warna merah bata, padu dengan warna putih darikusen pintu dan daun jendela.Beberapa ratus meter dari situ?masih di jalan yang sama?berdiri sebuahbangunan yang jauh lebih mewah, mirip puri bangsawan Inggris tempodulu. Nomor rumah berbalkon putih itu: 89. Luasnya dua kali lebihbesar dari yang pertama. Menurut seorang sumber TEMPO, rumah ituadalah gedung yang dibangun baru. Setelah dibeli, bangunan semuladirobohkan. Di teras, terpampang tulisan "Hillcrest" dari logamkeemasan. Tapi, di pojok kanan halaman depan kedua rumah itu, terlihatsebuah papan mencolok bertuliskan: "For Sale"?dijual. Di bawahnyatertera nama sebuah agen properti: John D. Wood & Co.Kedua rumah itu memang kerap menjadi gunjingan orang. Ini bukan cumakarena kemewahannya?Hampstead, yang terletak di daerah berbukit,adalah kawasan hunian paling prestisius di London?tapi juga karenapemiliknya bukan "orang sembarangan". Mereka adalah Sigit Harjojudantodan istrinya, Elsje Ratnawati Harjojudanto, putra dan menantu mantanpresiden Soeharto?yang lagi diperiksa karena kasus korupsi danpenyalahgunaan kekuasaan. Adalah Andrew Buncombe, wartawan harianterkemuka di Inggris, The Independent, yang pertama kali mengangkatnyake permukaan. Tulisannya di edisi 16 Maret lalu, bertajuk SuhartosSell Boltholes in UK for £ 11m ("Keluarga Soeharto Menjual RumahPelarian di Inggris Seharga 11 Juta Poundsterling"), menjadi buktikesekian?dari setumpuk bukti yang sudah ada?betapa trah Soehartomenjalani kehidupan bak syekh padang pasir.Dalam laporan itu, Andrew Buncombe menggambarkan betapa "wah"-nya(dengan W besar) rumah keluarga Sigit itu: berlantai marmer, memilikidelapan kamar, lengkap dengan aula untuk jamuan makan. Menurut pemburuharta Soeharto, George Junus Aditjondro, sejak Januari lalu puri itutelah ditawarkan lewat agen John Wood & Co. Harganya selangit: £ 8juta, atau jika dihitung dengan kurs Rp 15 ribu, ya ampun, mencapai Rp120 miliar! Koresponden BBC di Jakarta, Jonathan Head, menjelaskankepada Prabandari dari TEMPO bahwa rumah itu memang luar biasa mewah.Dia membandingkannya dengan harga rata-rata rumah kelas menengah diInggris, yang hanya £ 200 ribu atau cuma seperempat puluhnya! Rumahsatu lagi, atas nama Sigit sendiri, juga telah ditawarkan seharga £1,95 juta. Bangunan berlantai tiga dengan lima kamar tidur tersebutbiasanya digunakan oleh para pembantu keluarga itu.Ada satu rumah lagi yang dibidik The Independent.. Di seberang SungaiThames di 38-A Putney Hill, berdiri Norfolk House, kepunyaan saudaratiri Soeharto, Probosutedjo. Rumah itu berlantai tiga, plus sembilankamar, garasi ganda, empat ruang resepsi, sebuah ruang biliar, danpekarangan rumput yang luas. Menurut penelusuran George, bangunan itusemula dibeli Probo seharga £ 93 ribu. Tapi, sejak Januari lalu, lewatagen real estate Foxtons, Probo memasang tarif £ 1,4 juta untukmelegonya.Ditemui TEMPO di kantornya di kawasan Chanary Wharf, London, Andrewyang pernah meliput Tim-Tim ini menyatakan sudah cukup lama mendengarkabar soal istana Cendana di negaranya itu. Cuma, konfirmasi amatsulit diperoleh. Baru pada musim panas lalu, sepekan sebelum beritaitu diturunkan, kepastian datang dari HM Land Registry, semacam badanpencatatan kepemilikan properti. Ia menunjukkan keterangan "SwanseaDistrict Land Registry" bernomor NGL714482 tertanggal 26 Juli 1994,yang jelas-jelas menerakan nama Elsje Harjojudanto sebagai pemiliknya.Temuan ini baru sebagian kecil. Menurut George, yang mengaku memasokinformasi ke The Independent, ada beberapa properti Cendana lainnya diLondon. Cuma, karena properti itu belum dijual, ujung pangkalnya belumbisa dipastikan betul. Putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmanaalias Tutut, kabarnya juga memiliki beberapa apartemen di 16 Hyde ParkSquare, Mayfair. Ia membelinya seharga £ 350 ribu. Dan untukmerenovasinya?dilaksanakan setelah krisis moneter?ia merogoh koceksebesar £ 110 ribu.Di kawasan yang sama, tepatnya di 38 Upper Grosvenor Road, jugaterdapat sejumlah apartemen luks milik Siti Hediyati "Titiek" Prabowo.Seorang sumber TEMPO di London mengungkapkan, apartemen itu pernahditawarkan untuk disewa dengan tarif £ 8.000 atau sekitar Rp 120 jutaper bulan. Sementara itu, adiknya, Hutomo Mandala Putra alias TommySoeharto, memiliki sebuah rumah besar lengkap dengan padang golf 18lubang di dekat Pacuan Kuda Ascot, London Utara, dan sebuah rumahperistirahatan di Brighton, kota pantai di selatan London.Di luar London, dari hasil perburuan George, dinasti itu jugadiketahui memiliki berbagai rumah supermewah dan kondominium, yangbertebaran dari Jenewa, Hawaii, Beverly Hills-Los Angeles, Boston,sampai ke Cayman Islands di kawasan Laut Karibia (lihat infografik).Tommy juga disebut-sebut memiliki sebuah kawasan berburu seluas 2.500hektare di Selandia Baru. Area itu disebut-sebut teramat istimewa daneksklusif. Satu-satunya cara untuk mencapai rumah peristirahatan ditengah hutan pinus yang mengelilinginya itu adalah dengan helikopter.Itu baru soal properti. Keluarga terkaya ke-74 di seantero jagatmenurut ranking majalah Forbes?dengan total kekayaan US$ 4 miliar?itujuga terkenal gila-gilaan dalam urusan menghamburkan duit.Sampai-sampai ada yang mengibaratkan segampang menggelontorkan air.Seorang calon pembeli yang pernah mengunjungi rumah keluarga Sigit diLondon itu sempat terbengong-bengong. Ia cuma mendapati dua kamarkosong. Sisanya? Ternyata dipenuhi tumpukan tas belanja dariSelfridges yang bahkan, katanya, belum sempat dibuka. Sumber TEMPO diLondon yang dekat dengan keluarga itu terbahak, "Jangankan di London,di Jakarta saja mereka sering tidak sempat membuka barang yang telahdibeli." Luar biasa. Padahal Selfridges dan Harrods adalah pusatbelanja kalangan jet set di London, yang terletak di Oxford Streetyang kesohor itu.Keluarga ini juga gemar pamer mobil mentereng. Eno Sigit, salahseorang cucu Soeharto dari Sigit, semasa kuliah fashion di AmericanCollege, London, selalu pulang pergi diantar Rolls Royce mengkilat.Tentu saja pengemudinya adalah seorang chauffeur?sopir pilihan dengansetelan jas dan topi hitam-hitam. The Independent juga melaporkan Enopernah menggelar pesta di Hotel Hilton yang menghabiskan tak kurangdari £ 150 ribu atau sekitar Rp 2,25 miliar. Ia juga dikabarkan pernahmengganti telepon genggamnya dalam waktu sehari cuma karena ia taksuka dengan warnanya. Semasa itulah di kalangan mahasiswa Indonesia disana sangat populer sebuah komentar nyinyir ke arah trah Cendana:"Ingin menikmati gaya hidup supermewah? Gampang. Jadilah anak dan cucupresiden."Dua orang sumber TEMPO yang pernah kuliah di Boston, Amerika Serikat,mengungkapkan lagak cucu Soeharto yang lain. Kali ini menyangkutputra-putri kesayangan Tutut, Dandy dan Danty Rukmana. Sewaktu merekakuliah di sana, mulai tahun 1991, gaya hidup dua remaja baru gede iniluar biasa jumawa, bahkan untuk ukuran orang Amerika. Kedua sumber itusering melihat Dandy dan Danty berseliweran di jalan dengan mobilmewahnya.Jenis kendaraan yang mereka koleksi pun bukan sembarang merek, tapimobil dengan harga selangit, sebangsa Ferrari, Rolls Royce, danPorsche. Menurut sumber itu, Dandy bahkan pernah membeli sebuahLamborghini-Diablo seharga Rp 1 miliar. Buat warga kota kecil sepertiBoston, gaya hidup mereka amat mencolok. Sampai-sampai, jika sebuahmobil Lamborghini melintas, orang langsung bisik-bisik, "Itu cucusalah seorang presiden di Asia." Sumber itu juga pernah mendengarcerita dari seorang agen mobil terkenal di kota itu tentang kebiasaanmereka yang kerap gonta-ganti mobil. "Paling lama, mereka ganti mobilsebulan sekali," katanya. Edan.Yang lebih dahsyat, menurut George, dua remaja ini juga memiliki tigarumah mewah di kawasan itu, dengan nilai total US$ 2,5 juta atau, yaampun, mencapai Rp 37,5 miliar. Sumber TEMPO mendengar penuturan salahseorang temannya yang pernah diundang menghadiri pesta di sana. Rumahitu dilengkapi dengan taman yang luas, kolam renang supermewah, danlapangan tenis.Balap dan judi adalah kisah berikutnya di seputar gelimang hartadinasti Soeharto. Seorang teman reli Tommy Soeharto menuturkanbagaimana habis-habisannya mantan bos mobil nasional Timor itumelakoni hobi mahalnya. Sewaktu survei reli dunia di Medan pada 1997lalu, kata temannya itu lagi, cuma dalam waktu sepekan, Tommy sampai"menghabiskan" tiga unit Mitsubishi Evolution IV.Bukan apa-apa, tiga mobil yang harga setiap unitnya Rp 250 juta ituringsek mencium tebing. Dan dalam setahun setidaknya Tommy harusmenghabiskan 10 unit mobil survei. Teman reli Tommy yang lainmenuturkan keterbengongan seorang wartawan Australia yangmewawancarainya. Waktu itu, kepadanya ditanyakan pihak mana yangmensponsori tim relinya. Si wartawan melongo ketika diberi tahu bahwaseluruh dana?yang bisa mencapai ratusan juta sampai miliaran rupiahsekali reli?ditanggung pihaknya sendiri, alias tanpa sponsor. Padahalpereli kelas dunia tak mungkin berlaga tanpa ada yang mensponsori.Berbagai kasino kondang di seantero jagat pun luber dengan uang klanSoeharto. Di Christmas Island, Burswood Casino, Australia, atauGenting Highland, Malaysia, misalnya, nama beken anggota KeluargaCendana sudah menjadi buah bibir. Seorang sumber TEMPO yang berkawandekat dengan Ari Sigit, kakak Eno, menuturkan ulah cucu Soeharto yangsatu itu. Ceritanya begini. Ketika itu, Ari ikut reli di Malaysiadengan bendera timnya, Sexy Motor Sport, yang mengandalkan kedigdayaanmobil Audi. Pamannya, Tommy, juga ikut balap dengan timnya, GoroRally.Di suatu sore, setelah kandas di arena balap, Ari mengajak semuaanggota rombongannya ke Genting Highland, pusat perjudian terkenal disana. Tak jelas seberapa tebal ringgit yang ia habiskan di meja judi.Yang jelas, silakan hitung sendiri, sampai ayam berkokok, putra sulungSigit Harjojudanto itu masih asyik menjajal baccarat, black jack, danrolet. Padahal semalaman itu tak sekali pun ia dikunjungi DewiKeberuntungan, alias kalah melulu. Tapi ia rupanya tak begitu ambilpusing soal kalah menang. "Ia sekadar cari hiburan," kata sumber itumenjelaskan kenapa Ari tidak juga balik kanan kendati koceknya sudahbolong besar.The Independent juga menggambarkan bagaimana entengnya Tommymenghamburkan uang di meja kasino. Salah seorang temannya yang pernahberjudi bareng di Ritz Casino, London, punya cerita menarik. Suatumalam, Tommy keok terus. Duitnya amblas sampai lebih dari £ 1 juta (Rp15 miliar). Tapi putra bungsu Soeharto ini kelihatan tak begitu ambilpeduli. Dengan entengnya, seolah tak terjadi apa-apa, ia langsungmengajak teman-temannya makan malam di sebuah restoran mewah. Easygoing.Sang teman reli itu juga mengaku pernah diajak ikut berjudi ke London,dua tahun lalu. Mereka berangkat bersepuluh dengan jet pribadi "sangPangeran". Waktu itu, di luar kebiasaan, Tommy, yang lebih seringkalah ketimbang menang, bernasib terang. Duit hasil judi itu punlangsung amblas. Hari itu juga ia menghabiskannya dengan membeli sedanreli mutakhir, Subaru Impreza. Waktu itu saja harganya sudah mencapaisetengah miliar rupiah (sekarang berkisar antara Rp 800 ribu dan Rp1,2 miliar). Dua kasino favorit Tommy adalah di Christmas Island danGenting Highland. Di lapangan golf, kegemarannya berjudi juga taktertahankan. Berapa nilai taruhannya? "Enggak besar, paling-paling 50jutaan," kata temannya itu, enteng.Begitulah kisah bak raja diraja itu. Boleh saja kalau Anda lantasberdecak kagum, kaget bukan kepalang, bahkan kesal tak ketulungan.Silakan bergegas kalau Anda tertarik memburunya.?Karaniya Dharmasaputra, Dewi R. Cahyani, Ma'ruf Samudra, Wens Wanggut(Jakarta), koresponden London
Huda F